Tulisan yang mengandung 3 paragraf ini terutama ditujukan pada penulis, semoga pembaca yang budiman juga mendapatkan apa yang semestinya didapat pada tulisan ini. 

 

MELATIH HATI 


Wajah yang teduh senantiasa memberikan ketenangan. Memberikan kenyamanan pada orang yang di sekelilingnya. Tidak mudah terluka oleh perkataan lidah manusia, tidak pula melukai hati orang dengan sayatan perkataan. Senantiasa orang yang bermuka teduh selalu tersenyum walau di timpa masalah berkali kali.  Yang teduh jiwanya, akan teduh pula senyumnya, yang teduh budinya, akan teduh pula sifat dan karakternya. Jadilah layaknya pohon yang di butuhkan orang-orang yang ingin berteduh, jadilah rumah bagi orang-orang yang tengah butuh.
    Hanya sedikit orang yang memiliki jiwa yang teduh, yang memiliki keleluasaan jiwa sosial, yang ketika dimintai pertolongan selalu di usahakannya memberikan pertolongan. Orang-orang seperti ini amat jarang di temukan sekarang ini. Kebanyakan orang harus ada alasan untuk menolong orang lain. Entah itu karena yang di beri pertolongan adalah orang yang tinggi jabatannya, atau orang yang banyak uangnya. Ada juga macam orang yang menolong karena fisik, pengalaman penulis sudah banyak membuktikan. Bahkan saya sendiri pernah melakukan hal yang demikian. Maka sebab itu, tulisan ini bukan hanya untuk orang lain, melainkan untuk diri pribadi. Menolong karena ada sesuatu tidaklah di benarkan atas asas apapun. Siapapun orang berhak untuk di berikan pertolongan, dari yang miskin papa sampai pada tingkat kesultanan. Dari tingkat keelokan wajah sampai pada wajah yang kurang sedap di pandang mata. Itu semua punya hak yang sama dalam memberi pertolongan. setelah membantu orang janganlah pertolongan itu selalu di kenang dalam ingatan melainkan lepas jauh-jauh dari mengingatnya. Sedang yang di beri pertolongan hendaklah untuk selalu mengingat kebaikan orang lain yang telah membantunya. Teringat pesan buya Hamka dalam bukunya “seorang yang telah di berikan pertolongan oleh orang lain, maka wajiblah atasnya bertekad untuk membalas kebaikannya.”
    Untuk menjadi orang yang bijak, hati manusia haruslah selalu dilatih setiap saat, ibarat bambu yang bengkok, jika pada mula pertumbuhannya selalu diluruskan sedikit demi sedikit, maka pada panjangnya kelak akan lurus sebagaimana mestinya. Menjadi manusia yang bermanfaat itu nikmat, tentu hal ini tidak bisa dirasakan oleh orang-orang yang jarang atau bahkan tidak pernah merasa cukup dengan keadaannya sekarang. Dan begitupun sebaliknya, rasa cukup dengan keadaan yang sekarang, senantiasa akan membawa ketenangan dalam menjalani hidup, merasa aman ketika diberikan ujian, merasa tentram disaat disaat semua orang sibuk dengan hiruk pikuknya dunia.
 

semoga bermanfaat, dan terimakasih sudah berkunjung...

 


Komentar

Postingan Populer